Indonesia Kekurangan Bakat Cyber Security


Indonesia kekurangan bakat cyber security dan hal itu menimbulkan masalah yang sangat nyata dalam industri strategis, pertahanan, kesatuan bangsa dan bisnis. Bayangkan bila terjadi perang cyber istilah beberapa tentara Cyber Indonesia yang dapat membela dan memperkuat pertahanan bangsa.

Kekuatan SDM (sumber daya manusia) sama pentingnya dengan kekuatan teknologi itu sendiri. Dalam dunia industri, baik perbankan, telko dan instansi pemerintahan, hampir seluruh negara didunia, telah memakai teknologi sebagai basis aktifitas kinerja kerjanya. Teknologi akan terus berkembang pesat tiap tahun kedepan tanpa batas.Dalam berbagai macam masalah IT, unsur sumber daya manusia (SDM) juga memegang peranan utama, untuk itu sangat perlu dipikirkan dan dipersiapkan guna mencegah ketimpangan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi.

“Menurut survei yang pernah saya baca, dunia butuh 15 juta tenaga expertis untuk cyber security. Indonesia kini butuh 1000 tenaga ahli (expert) cyber security diluar officer untuk berbagai kebutuhan instansi pemerintah, dunia industri, perbankan, telko dan lain sebagainya.” Ungkap Eva Noor (23/12), CEO PT Xynexis International dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (26/12) .

Untuk menyikapi dan menanggulangi hal itu, perlu dilakukan terobosan supaya tidak terjadi ketimpangan antara majunya teknologi Informatika dengan SDM atau tenaga pengawasan khusus dibidang IT , PT Xynexis melahirkan inovasi baru dengan gagasan program Born To Control bekerjasama dengan kementerian informasi dan telekomunikasi Indonesia (KOMINFO), dalam mengaplikasikan dan menjalankan program tersebut untuk masyarakat luas.

“Saat ini Xynexis baru menggandeng Kominfo guna pencarian bakat pada generasi muda yang tertarik dalam program Born to Control. Kedepan tidak menutup kemungkinan departemen semisal Pertahanan, BI, Keuangan, Kelautan serta berbagai instansi – instansi milik pemerintah lainnya termasuk pihak swasta seperti otomotif, telko, perbankan,asuransi juga dapat bermitra dalam program ini,” ujar Eva Noor .

Born to control adalah program pencarian bakat cyber security di Indonesia, dengan tujuan menjaring minimal 2000 bakat SDM di dalam cyber security untuk tahun 2017, bertujuan menciptakan keseimbangan SDM yang ada, agar dapat mengatasi permasalahan kemajuan teknologi informatika saat ini.

Kebutuhan punggawa pengawas sistem keamanan cyber seiring kemajuan jaman akan terus dirasakan penting keberadaannya.

“Program ini idealnya ada dari pendidikan menengah pertama atau menengah atas hingga bangku pendidikian tinggi yang memiliki fakultas IT atau khusus pendidikan IT, sebagai mata kuliah utama, ” kata Eva.

Proses Pencarian Bakat

Xynexis bersama Kominfo pada 2017 melakukan awarnes di 5 kota dalam mensosialisasikan program yang digagas dengan harapan terus berlanjut pada kota-kota lain ditahun berikutnya.

Awarnes yang dimaksud bertujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat luas, khususnya para generasi muda yang tertarik dengan cyber security program.

“Khusus program pencarian bakat di cyber security ini, tidaklah harus mengerti IT. Karena dengan memiliki ketertarikan saja sudah cukup yang kemudian akan dihimpun dan diberikan training khusus di bootcamp yang akan di selenggarakan 2 minggu pada tahapan kedua dalam menjaring para kandidat,” tuturnya. Dari 2000 peserta. Diharapkan dapat terseleksi 100 orang terbaik dalam tiap daerah dan diberi pembinaan character building serta training khusus dengan standard internasional .  Pembinaan bertujuan agar menciptakan tenaga yang baik bukan hanya keahlian IT-nya saja, namun juga menghasilkan sebuah mindset yang baik pula dari seseorang kandidat yang terpilih kelak. “Pembinaan karakter ini di anggap perlu karena banyak orang cerdas dan memiliki keahlian bagus, namun banyak sekali dijumpai keahlian tersebut digunakan pada hal-hal yang kurang baik atau negatif. Khususnya didunia IT.” ujarnya.

Ia menjelaskan, agar mindset SDM minimal dapat membela dirinya sekaligus juga jadi punggawa pembela bangsa dan negara dalam serangan cyber yang bisa saja menjadi sebuah ancaman serius kedepan. Dalam Pencarian bakat ini, Target yang disasar untuk SDM Born To Control adalah semua warga negara Indonesia, berumur 16 tahun keatas dan yang berpendidikan menengah atas, hingga perguruan tinggi. “Semua tentu akan ada test awal. Walau kandidat yang ikut hanya berbasic berpendidikan sekolah menengah atas dan tidak berlanjut keperguruan tinggi, namun berbakat dan punya ke inginan kuat, kenapa tidak mungkin itu yang bisa menjadi kandidat utama,” katanya.

Bagi mereka yang terpilih, lanjut dia, menjadi kandidat terbaik akan mendapat apresiasi dalam bentuk beasiswa pendidikan selain diberi saluran kesempatan bekerja pada perusahaan atau instansi yang membutuhkan. Program Born To Control dirasakan sangat penting diselenggarakan agar tidak terjadi ketimpangan teknologi yang melesat jauh dengan SDM yang ada. Hal ini juga dirasakan penting agar pemerintah seyogyanya tidak lagi mengimpor atau mendatangkan tenaga ahli luar dalam penanganan masalah cyber security di negeri ini. Bila hal ini terjadi sudah barang tentu sangat merugikan dan membahayakan ketahanan dan pertahanan bangsa. Dilema yang muncul adalah, disatu sisi Indonesia butuh pengembangan teknologi dalam industri bisnis dan tatakelola pemerintahan. Disisi lain SDM yang dimiliki terbatas dan tidak menutup kemungkinan bila tenaga ahli luar yang di berdayakan, kedepan akan membawa masalah serius dan besar apalagi berbicara kerahasiaan data, dimana masalah yang muncul menjadi sebuah keamanan yang cukup sensitif khususnya pada masalah ketahanan dan pertahanan bangsa dalam berbagai sektor.

 

Sumber :  http://www.beritasatu.com

 


Popular Posts