Cloud vs On-Premise


Perkembangan Internet yang massal telah mengubah paradigma IT secara menyeluruh. Salah satu isu yang sering muncul adalah penggunaan sarana berbasis cloud. Difasilitasi oleh akses Internet yang makin cepat dan terjangkau, layanan seperti penyimpanan data mulai menarik pengguna dalam jumlah besar, karena kemudahan yang ditawarkan, yaitu akses file dimana saja dan kapan saja, tanpa perlu membawa sarana penyimpanan konvensional.

Seiring dengan perkembangan teknologi, fungsi-fungsi yang dapat ditawarkan oleh sarana berbasis cloud makin bertambah dan beragam. Penyimpanan data hanya menjadi salah satu sisi dari kemampuan cloud. Netflix, raksasa penyedia streaming video, pada 2009 memulai migrasi sistem mereka ke cloud, dengan Amazon Web Services (AWS) sebagai penyedia sarana cloudnya. Migrasi tersebut memakan waktu 7 tahun, dan sekarang, Netflix sama sekali tidak memiliki datacenter dimanapun. Memanfanfaatkan AWS, sistem penyimpanan dan streaming video mereka kini benar-benar berjalan di cloud,  meningkatkan ketersediaan atau availability, dan pada saat yang bersamaan, menurunkan cost.

Berkiblat dari Netflix, penggunaan sarana berbasis cloud mulai dilirik oleh segmen korporat. Tidak mengherankan, mengingat layanan cloud dapat menawarkan skalabilitas yang fleksibel, sesuai dengan kebutuhan—dan tentu saja, budget—dari suatu perusahaan. Jika dibandingkan dengan layanan on-premises atau “di-tempat” yang membutuhkan investasi dan perencanaan substansial pada awalnya, dengan fleksibiitas sarana berbasis cloud, sebuah organisasi bisa menentukan apa sebenarnya kebutuhan bisnis mereka, dan apabila rencana berubah di masa depan, dapat secara cepat merubah strategi cloud yang digunakan, guna menjawab tantangan yang ada. Intinya, akusisi sarana cloud tidak membutuhkan komitmen sebesar sarana on-premises (misal, pembelian hardware), berujung pada total cost of ownership yang lebih rendah, dan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan, kapan saja.

Relevansi penggunaan sarana cloud makin bertambah, apalagi di saat ini, dimana dunia sedang dilanda pandemi yang disebabkan oleh coronavirus. Salah satu cara untuk menghambat laju persebaran coronavirus adalah physical distancing, yang berarti hampir semua korporasi memutuskan untuk menjalankan kebijakan telecommuting atau bekerja dari jarak jauh/rumah. Hal ini membuat departemen-departemen IT di berbagai perusahaan kewalahan, karena sistem yang ada tidak mampu mengimbangi kenaikan drastis aktivitas telecommuting. Ini dapat berujung pada gangguan teknis,  dan akhirnya menghambat produktivitas. Kunci untuk mengatasi hal ini adalah skalabilitas dan reliabilitas, dua selling point cloud yang paling utama.

Salah satu komponen IT organisasi yang tersedia dalam bentuk sarana cloud adalah cybersecurity. Didukung kemampuan berbasis cloud, produk cybersecurity seperti antivirus dan EDR atau endpoint detection and response dapat menjadi solusi keamanan yang mumpuni, tanpa kompleksitas dan komitmen yang dibutuhkan oleh solusi on-premise. Gunakan hanya solusi cloud cybersecurity yang dapat diandalkan untuk organisasi anda.


Popular Posts